Halaman

Assalammu'alaikum, ya Akhi ...(^___^)

Mencintai karena Allah " Uhibbuki fillah "

Jumat, 30 November 2012

IslamediaAssalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarahkatuh

Belakangan saya sering mendengar tentang kehamilan diluar nikah. Hal ini banyak terjadi di kalangan remaja bahkan anak kecil di Indonesia yang terhitung masih anak-anak. Semakin maraknya pemakaian internet, nampaknya berdampak besar bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Pergaulan bebas, narkotika dsb menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para orang tua. Oleh karena itu saya ingin mensosialisasikan kepada kalian perempuan muda untuk berhati-hati, supaya tidak terjerumus pada masalah besar seperti MBA (Marrid By Accident). 

By: QiQi 


Pada kehamilan muda,dimana usia janin masih sangat kecil,aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction).Sang anak yang 
masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan.Saat dikeluarkan,dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.
Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan)
Pada tahap ini,dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk.Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan dengan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus).
Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut,dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai.Bisa lambung,pinggang,bahu atau leher.Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya.Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.
Dalam klinik aborsi,bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini. Ada potongan tangan, potongan kaki,potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang mungil.Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan cara yang paling mengerikan.
Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sd 6 bulan)
Pada tahap ini,bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas.Jantungnya sudah berdetak,tangannya sudah bisa menggenggam.Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit,karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik.
Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan.Pertama,diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi.Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan,menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal.Selama proses ini dilakukan,bayi akan berontak,mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras.Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan,tetapi pembunuhan secara amat keji.Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini.
Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan)
Pada tahap ini,bayi sudah sangat jelas terbentuk.Wajahnya sudah kelihatan,termasuk mata,hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik.Untuk kasus seperti ini,proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup,kemudian dibunuh.
Biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah,ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah.Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai.Selesai dengan tuntas,hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.
TAHUKAH ANDA …
Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi.Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit,mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Namun bagi bayi,itu adalah proses yang sangat mengerikan,menyakitkan dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu.Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya, namun ia telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.
Sumber : http://www.islamedia.web.id/2012/11/inilah-pembunuhan-tak-kalah-tragis-dari.html
 

Kamis, 29 November 2012

Cerita Bahagia

Assalammu'alaikum,...
Alhamdulillahirobbil'alamin, masih diberikan nikmat sehat, diberikan nafas, diberikan senyum, diberikan waktu untuk berdoa, dan diberikan sejuta kebahagiaan karena masih bisa melihat orang-orang yang aku sayang.

Pagi ini seperti biasa dan siangnya pun aku berangkat ke kampus.
sekitar pukul 13.00 aku tiba di kampus.
dan di meja kerja udah ada secari kertas dari atasan ku.
Tulisannya:
"Mbak ini penawaran listrik Rp. 98.945.000,-, yang lain bisa di print"
Thanks ya mbak qiqi

Lalu, ga berfikir panjang aku buka folder proyek di desktop komputerku.
dan langsung aku kerjakan apa yang diminta oleh atasanku.

Pada dasarnya, mengerjakan pekerjaan dengan tepat waktu dan rapih adalah punya nilai kebahagiaan buat aku. 
karena berarti aku diberi kesempatan untuk menjadi orang yang amanah.
  
Dan hari ini aku mau bercerita tentang kisah bahagia?
Kenapa?!? Karena aku sedang dikelilingi oleh orang-orang yang sedang berbahagia dengan kisah hidupnya.
Ya bagaimana gak ya? di usia aku yang sekarang ini, akan banyak cerita tentang pernikahan, kehamilan, dan memiliki bayi.
Walau hal tersebut masih jauh difikiran aku sih.
Emmm,.. kenapa jauh?
Heehhehehe,...
dan yang makin menginspirasi aku buat cerita itu blognya neng "KARA
Tulisan doi tuh lucu bint khas banget kalau di baca. seruuuu dan seruuu bangettt,....
bikin orang yang baca mupeng juga ketawa-ketawa sendiri,..hihihiiiiiiii

Lanjuttt ke topik,.......
Jadi beberapa bulan ini aku dapet banyak banget undangan pernikahan.
Yang bikin aku bahagia adalah mereka2 yang terdekat dengan aku bakalan melepas masa lajangnya.
pasti berbunga-bunga banget ya, secara masa pacaran mereka yang terhitung udah lama juga,...hihihiiii
pokoknya turut bahagia banget buat kebahagiaan kalian.
Semoga menjadi keluarga yang sakinnah, waddah, dan warohmah ya.
awet-awet, rukun-rukun, saling sabar, saling menghormati dan menghargai sama pasangan kalian dan saling menjaga kepercayaan.
Semoga suami kalian bisa menjadi imam buat kalian
dan 
Isteri kalian bisa jadi penyejuk di keluarga kecil kalian.

Aamiin

Bahagia selanjutnya,....
Denger kabar kalau temen-teman yang udah merrid isi "Hamil"
Wahhh, takjub banget kali yah kalau tau di dalam perut kita ada makhluk hidup alias jabang bayi.
Cz aku seneng banget pegang perut ibu-ibu yang lagi hamil, seneng karena takjub dan emmm agak aneh aja. #Kok bisa yaaa????
 
Belum ngerasain tapi ikut merasakan bahagianya mereka yang bisa melewati alur hidup ini dengan baik.
Alur hidup sebagai wanita yang seutuhnya, ketika Allah mempercayakan kita menjadi seorang "Ibu",... Subhanallah pasti ya. 

So, di jaga baik-baik ya titipan Allah.
Jangan disia-siakan maksud aku. Tidak mudah sih tapi mereka amanah yang Allah titipkan ke kalian "calon bapak dan ibu".  


Dan saat mereka bisa merawat anak2 itu,..
Pasti lucu banget dan bahagia banget bisa melihat  dan ngerawat darah daging sendiri....:D
#tua banget gw.
yua,,, pokoknya aku ikut berbahagia buat semua cewek yang lagi menikmati alur sebagai wanita seutuhnya.
yaitu "ISTERI" 


   
     
    

Senin, 26 November 2012

Ilmu Sabar



Hakikat Sabar (1)

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)
Sabar Dalam Ketaatan
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)
Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)

Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)

Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyllahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.

Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).

Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
 
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.

Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.

Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.” 

Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”

Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.

Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.

Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.

Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”

Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.

Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Cerita2

Dari sekian banyak alur kehidupan ini. Saat hal yang tertangkap difikirku.
Bahwasannya Allah selalu menguji kita dengan segala kemudahan dan kesulitan.
Kesulitan adalah ujian dan kemudahan adalah ujian pula.
Kebahagian adalah ujian dan kesedihan adalah ujian pula
Entah bagaimana caranya agar kita mampu setegar, sekuat dan sesabar Rasulullah.
Entah bagaimana pula caranya, kita menyadari bahwa ketika kenikmatan dunia ini adalah perhiasan dunia.

Kesuksesan dalam pendidikan
Kesuksesan dalam karier
Kesuksesan dalam berumah tangga
dsb,...

Dan dimana untuk mencapai kesemuanya itu, tidak semudah membalikan telapak tangan.M

Mencoba bersabar dan terus bersabar,.. #pray

Cerita

Assalammu'alaikum Wr. Wb
Entah dari mana aku harus memulai kata dan menjadikannya sebuah baris serta deret kalimat.
Entah dari mana mengungkapkan rasa kecewa dan sedih tatkala apa yang kita harpkan tak sejalan dengan takdir yang Allah berikan.

Sulit,...

Sulit,..
Menjatuhkan air mata ini tatkala aku harus mengingat mama.

Sulit,..
Menghapus rasa kecewa ini karena yang jauh akan kecewa adalah mama.

Allah,..
Aku teramat jauh dari apa yang Engkau mungkin harapkan,..
dan aku teramat jauh dari sebuah kebaikan.

Dan Allah, aku tidak akan menyerah,....:)

Tidak menyerah ketika kesabaran ini di uji.
Tidak menyerah ketika apa yang aku mau tidak sejalan dengan takdirmu.
dan
Tidak menyerah dalam mendapatkan yang terbaik,..

Semoga senantiasa kuat...
Aamiin



Selasa, 13 November 2012

Bersyukur

Banyak hal yang membuat Saya bersyukur di kehidupan ini.
Karena dengan banyak bersyukur Saya akan sedikit mengeluh dalam menjalani sulitnya kehidupan yang sedang dijalani. Teramat sayang jikalau separuh dari kehidupan ini kita lewati dengan mengeluh karena nikmat yang telah Allah berikan luar biasa banyaknya. Memang bukanlah hal yang mudah mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan karena sebagai manusia selalu merasa kurang dengan limpahan rizki dan nikmat yang telah Allah berikan.

Jumat, 09 November 2012

"Andai Aku Menjadi Ketua KPK'

"ANDAI AKU MENJADI KETUA  KPK
Sebaris kalimat sederhana yang memiliki ARTI dan MAKNA besar bagi bangsa ini.

Menjadi seorang ketua KPK merupakam khyalan kebanyakan orang dan kalaupun terfikir dibenak saya, banyak hal yang harus dipelajari guna mensukseskan KPK sebagai lembaga yang nyata dalam memberantas korupsi di negeri dengan 1000 pulau ini. Dan juga bukanlah pula sesuatu yang mudah menjabat menjadi seorang ketua KPK, dimana Saya akan selalu dihadapkan pada suatu tekanan dan ancaman dari pihak-pihak yang tidak menyukai aturan-aturan yang telah Saya buat dalam menegakkan keadilan.

Pada dasarnya pencederaan yang dilakukan oleh pelaku korupsi sama dengan pembunuhan secara massal terhadap masyarakat Indonesia. Tentu kita bisa bayangkan, anggaran yang sebegitu besarnya yang seharusnya dipergunakan untuk pembangunan di negeri ini di pergunakan dan dinikmati oleh pihak tertentu guna kesenangan pribadinya dan kemakmuran bagi keluarganya. Sedangkan banyak warga miskin di negeri ini yang sangat membutuhkan pensejahteraan melalui anggaran yang terkumpul melalui pembayaran pajak masyarakat tersebut.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai lembaga independen, kuat dan tidak tercederai memiliki tanggung jawab yang besar. Dan jikalau Aku menjadi ketua  KPK, terobosan apa yang hendak Aku lakukan, yaitu:

1.  Hal utama yang aku lakukan sebagai seorang ketua  KPK adalah melakukan pencatatan dan pemeriksaan harta kekayaan bagi semua pihak intern di  KPK. Hal ini dilakukan agar terjadi transparasi harta kekayaan dan pembelajaran kejujuran bagi setiap pegawai di instansi  KPK. Kalau di istilahkan, "Kalau air yang dipergunakan mencuci saja kotor, bagaimana mau bersih cucian yang dicuci". Benarkan?
Apa sih pencatatan dan pemeriksaan itu?   
a. Pencatatan? Ya, jadi setiap harta kekayaan yang diperoleh oleh setiap pegawai instansi  KPK dicatat. Semisal: Pak Wagubi memiliki sebuah mobil, 2 rumah kontrakan dan berpenghasilan Rp. 3000.000,- per bulan, jumlah uang yang masuk ke rekening tabungan dan lain sebagainya. Pihak penyidik wajib mencatat harta kekayaan tersebut.
b. Pemeriksaan? Pemeriksaan adalah penelusuran dari mana seorang pegawai memperoleh pengahasilan selain dari gaji tetapnya sebagai seorang pegawai KPK.
         Pencatatan dan pemeriksaan terhadap harta kekayaan dilakukan bagi setiap lapisan di  KPK. Aku pun sebagai Ketua juga tidak boleh luput dari pemeriksaan ini.

2. Setelah melakukan transparasi terhadap setiap pegawai instansi  KPK, maka saya sebagai ketua akan mengadakan rapat khusus guna menetapkan dan menetukan sangksi hukum bagi setiap pegawain instansi  KPK yang mencederai lembaga  KPK dengan melakukan tindak pidana Korupsi, yaitu:
a. Bagi siapapun pegawai instansi  KPK yang terbukti melakukan korupsi, melindungi tersangka yang terjerat kasus korupsi, memberi keterangan palsu kepada penyidik, maka dikeluarkan secara tidak terhormat oleh lembaga  KPK.
b. Diserahkan kepada pihak berwajib, guna ditindak secara hukum.
c. KPK tidak akan pandang bulu terhadap siapapun yang terjerat kasus korupsi di lembaganya.

Setelah melakukan penyeterilan pada bagian internal  KPK, maka saya sebagai ketua memiliki kewajiban selanjutnya. Yaitu penyeterilan pada tingkat eksternal yaitu kasus-kasus korupsi di DPR, MPR, Proyek-proyek pembangunan yang dilakukan oleh instansi tertentu, seperti : Proyek Instansi Pendidikan, Proyek Pembangunan Jalan umum oleh dinas PU, dan lain sebagainya.

Saya sebagai remaja Indonesia tentu sangat perihatin dengan carut marutnya peradilan di negeri ini dalam menangani kasus korupsi. Berita yang ada hanya gencar pada masa waktu tertentu, tetapi tenggelam pada suatu masa dan tanpa kejelasan bagaimana tindak lanjut lembaga peradilan dalam menangani kasus korupsi. Jikalau saya diberi wewenang dan otoritas sebagai ketua  KPK, ketentuan hukum harus ditetapkan, disepakati dan dijalankan.

1. Bagi siapapun (Anggota MPR, DPR, Menteri, lembaga tertentu dan lain sebagainya) yang terjerat kasus korupsi, harus diberhentikan dari jabatannya,
2. Diserahkan kepada pihak berwajib, guna diusut kasusnya di ranah hukum.
3. Diberikan sangksi pengasingan bagi keluarga yaitu dengan memindahkan tempat tinggal ke provinsi tertentu bagi isteri/suami dan anak.

Tindak korupsi yang terjadi di kalangan masyarakat dengan wewenang besar di lembaga DPR, MPR, kementrian dan lain sebagainya bukanlah tindakan yang main-main. Kita dapat melihat dari berbagai kasus yang terjadi belakangan ini. Seperti korupsi pembangunan wisma atlet, pembangunan instansi pendidikan, simulator SIM dan lain sebagianya. Di mana setiap peran memperoleh bagian-bagian yang besarnya berbeda. Oleh karena itu, saya sebagai ketua KPK yang diberikan wewenang besar di lembaga pemberantasa korupsi di Indonesia akan mempergunakan wewenang tersebut dengan sebaik mungkin.


SANGKSI HUKUM BAGI PELAKU KORUPSI

1. Korupsi  >100 Triliyun - 50 Triliyun
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 21 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman mati
c. Diberhentikan dari jabatannya
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

2. Korupsi 40 Triliyun - 1 Triliyun
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 18 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman mati
c. Diberhentikan dari jabatannya
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

3. Korupsi 90 milyar - 50 milyar
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 15 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman mati
c. Diberhentikan dari jabatannya
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

4. Korupsi 40 milyar - 10 milyar
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 12 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman mati
c. Diberhentikan dari jabatannya
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

5. Korupsi 9 milyar - 5 milyar
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 9 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman penjara seumur hidup.
c. Diberhentikan dari jabatannya.
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

6.  Korupsi 4 milyar - 1 milyar
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 3 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman penjara seumur hidup.
c. Diberhentikan dari jabatannya.
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

7. Korupsi 900 Juta - 500 Juta
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 6 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman penjara seumur hidup.
c. Diberhentikan dari jabatannya.
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

8. Korupsi 400 Juta - 100 Juta
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 3 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman penjara seumur hidup.
c. Diberhentikan dari jabatannya.
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

9. Korupsi < 100 Juta
a. Diadili oleh masyarakat
yaitu diikat pada suatu tiang tertentu, mengenakan papan bertuliskan (SAYA PELAKU KORUPSI DAN SAYA JERA), dan masyarakat diperbolehkan untuk menimpukinya dengan gumpalan kertas selama 3 bulan berturut-turut. Pada hal ini, tersangka dijaga oleh pihak keamanan.
Menurut saya, bully yang dilakukan oleh masyarakat akan memberikan efek jera yang lebih dari pada hukuman penjara.
b. Hukuman penjara disesuai ketentuan hukum.
c. Diberhentikan dari jabatannya.
d. Harta hasil korupsi dikembalikan ke negara.
e. Pengasingan bagi pihak keluarga.

Jujur dari Hal Terkecil
a. Pembentukan karaketer seorang anak bermula dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Begitupula untuk dapat menanamkan kejujuran di setiap benak seorang anak. Satu hal yang Saya ingat, Ibu Saya adalah seorang pedagang jadi setiap hendak mengambil uang jajan Saya diberikan kebebasan oleh Ibu untuk mengambil sendiri uang saku untuk jajan di sekolah. Tetapi karena Saya sudah dibiasakan untuk jujur, maka Saya mengambil uang saku sesuai dengan ketentuan yang Ibu Saya berikan.
b. Semasa Saya duduk di Sekolah Menengah Pertama, setiap seminggu sekali diadakan lari mengelilingi sebuah lapangan bola. Banyak diantara teman-teman Saya yang melakukan kecurangan. Semisalnya Bapak guru menganjurkan untuk melakukan keliling sebanyak 5 kali, sedangkan temna-teman Saya hanya melakukannya 1 Kali putaran.
c. Contoh ilmu kejujuran selanjutnya adalah semasa Saya duduk di bangku perkuliahan. Di mana Saya di amanahkan untuk menjadi PJ (Penanggung Jawab) salah satu mata kuliah di kelas. Ketika itu, ada salah satu teman saya yang sering Alfa (Tidak masuk). Maka Saya mencatatnya dengan tulisan (A) di absensinya, namun Ia protes. Sampai pada akhirnya kita sempat bermusuhan.
d. Dan contoh yang terakhir adalah ketika Saya menjabat sebagai pegawai administrasi di salah satu universitas negeri di Indonesia. Di mana Saya diamanahkan untuk mengatur keuangan di salah satu konsentrasi dan Saya tidak diperboleh melebih-lebihkan pengeluaran kantor. Karena melebih-lebihkan dana yang keluar sama saja dengan tindakan korupsi.
Banyak hal yang dapat kita petik dari beberapa cerita pendek yang Saya utarakan. Bahwasannya kejujuran yang ditanamkan sedari kecil akan terbawa hingga dewasa dan akan selalu diingat juga diaplikasikan dimanapun kita berada.

Pada dasarnya yang membuat kita takut untuk berperilaku negatif adalah Tuhan. Seseorang yang mengetahui hukum agama tentu akan berfikir panjang untuk melakukan sebuah tindak pidana seperti korupsi. Ia yang terbiasa jujur akan memegang teguh setiap amanah yang diberikan oleh orang lain, tak terkecuali rakyatnya. Amanah besar ataupun kecil, kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Tuhan. Oleh sebab itu, didiklah seorang anak dengan ilmu agama yang baik karena kelak Ia akan terbiasa untuk melakukan hal yang baik, termasuk berperilaku "jujur".











 










Rabu, 07 November 2012

Walimah Saybatul Arsamsyah dan Arfan




Alhamdulilllah satu sahabat SMA ku telah melepas masa lajangnya,...:)
Tepat nya pada Minggu, 4 November 2012, di kediaman iba di daerah jatiwaringin.
Di acara ini kita menyerahkan plakat bergilir yang menandakan bahwa ia sudah melepas masa lajangnya. Sebenarnya sih bukan keharusan tapi buat seru-seruan aja.
Jadi plakat ini jadi rebutan ya,..hihiihiiiii

Semoga menjadi keluarga sakinah, wawaddah, warohmah,...Aamiin